Senin, 22 September 2014

Kegiatan Pembuatan MOL (Micro Organisme Lokal) SD Negeri 5 Metro Utara

Membuat pupuk organik sebenarnya sangatlah mudah, bahkan tanpa tempat dan mesin khusus. Secara alami limbah organik akan terurai dengan sendirinya. Namun dengan membiarkannya begitu saja, proses pembusukan membutuhkan waktu yang cukup lama. Salah satu activator yang cukup murah adalah larutan MOL (Mikro Organisme Lokal).

Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat baik dari tumbuhan maupun hewan. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik dalam tanah, perangsang pertumbuhan pada tanaman, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman

Peran MOL dalam kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh tanaman secara optimal. Fungsi dari bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain adalah penyuplai nutrisi melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan tanaman, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang tanaman.

Larutan MOL ini dibuat sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan limbah dari rumah tangga atau tanaman di sekitar lingkungan misalnya sisa-sisa tanaman seperti bonggol pisang, gedebong pisang, buah nanas, jerami padi, sisa sayuran, nasi basi, dan lain-lain.
Bahan utama dalam larutan MOL teridiri dari 3 jenis komponen, antara lain :
1. Karbohidrat      : air cucian beras, nasi bekas, singkong, kentang dan gandum
2. Glukosa            : cairan gula merah, cairan gula pasir, air kelapa/nira
3. Sumber bakteri : keong mas, buah-buahan misalnya tomat, papaya, dan kotoran hewan

Minggu, 21 September 2014

Tiga Masyarakat Adat Lampung Dukung SMP Negeri 10 Metro Lestarikan Pisang Telur


Oleh: Mahyudin Effendi, S.Pd.
(Pengasuh Komunitas Pisang SSB SMP Negeri 10 Metro )

Berbagai upaya dilakukan agar keanekaragaman hayati Indonesia jangan sampai punah. Pisang telur   ( Musa paradisiaca ) yang merupakan salah satu koleksi unggulan di SMP Negeri 10 Metro saat ini mulai dikembangkan. Pada pertengahan 2013 yang lalu, guru dan siswa yang tergabung dalam Komunitas Pisang SMP Negeri 10 Metro mengadakan pertemuan guna mencari dan menanam salah satu dari sekian ribu keanekaragaman hayati yang ada di Bumi Lampung ini yaitu Pisang Telur. Ditetapkannya pisang Telur sebagai salah satu spesies pisang yang sudah nyaris punah dan menghilang dari pandangan masyarakat adalah alasan mengapa pisang ini perlu dilestarikan.
Pada tanggal 6 Agustus 2014 yang lalu, tiga orang perwakilan Masyarakat Adat Lampung dari suku Tiyuh Waykanan ( Tuan Bandar Agung ) , Tiyuh Sekampung Lampung Timur          ( Pengiran Sebuai ) dan Tiyuh Hajimena ( Sutan Bandar ) memberikan dukungan kepada SMP Negeri 10 Metro untuk melestarikan 3 spesies tumbuhan yaitu Pisang Telur ( Musa acuminata), Singkong Mentega  ( Manihot utilissima ) dan Tebu Telur Ikan. 

Kesulitan mencari bibit pisang ini langsung dari alam ternyata menjadi kendala tersendiri mengingat habitat alamiah pisang ini adalah di hutan – hutan dan pegunungan. Dari beberapa informasi tokoh adat Waykanan diperoleh satu batang pisang telur yang masih tersisa itupun hanya tinggal bonggolnya saja. Dari satu buah bonggol pisang yang ada Komunitas Pisang SMP Negeri 10 Metro melakukan perawatan intensif dengan menanam dan memastikan kecukupan nutrisi tanaman. Hasilnya saat ini sebatang pohon pisang telur dan empat anakan telah tumbuh dengan subur bahkan melebihi ukuran standar yang ada dihabitat alamiahnya. Dihabitat alamiahnya, pisang ini adalah sumber makanan bagi warga hutan yaitu kera, burung, kelelawar, musang, tupai dan serangga.
Berbagai dukungan juga berdatangan baik dari siswa melalui jejaring sosial Facebook, guru, dan walimurid untuk ikut serta dalam melestarikan pisang ini. Bahkan salah satu lembaga yaitu Pertamina Foundation melalui Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia ( Kehati ) turut memberikan dukungan baik moril maupun materil. 

Saat ini Komunitas Pisang terus mengembangkan beraneka jenis pisang sebagai salah satu produk unggulan dari sekolah. Pada awal musim penghujan yang akan datang Komunitas ini akan membagi – bagikan 200 batang bibit pisang Tanduk kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk pengabdian sekolah kepada masyarakat.
Kepala SMP Negeri 10 Metro, Marsidi, S.Pd. menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah mendukung upaya pelestarian pisang telur semoga kedepan pisang ini bisa dikembalikan kehabitat alamiahnya sebagai salah satu komponen ekosistem dihutan.


Partisipasi SMP Negeri 10 Metro dalam acara Karnaval dan pameran Hijau Kota Metro



1200 siswa sekolah tumpah ruah berbaur bersama masyarakat dalam acara Karnaval yang diselenggarakan oleh Forum Komunitas Hijau Kota Metro tanggal 21 September 2014. 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai sekolah yang ada di Kota Metro. Hadir ditengah – tengah acara Kepala Dinas Pendidikan Kota Metro Bapak Hi. Drs. Masnuni M.Ro’i beserta kepala SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Metro.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pendidikan meyampaikan agar kegiatan ini dapat dijadikan momen yang dapat menumbuhkan kreatifitas dan kepedulian siswa dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan ini melibatkan beberapa Sekolah Sobat Bumi ( SSB ) yaitu SDN 4 Metro Timur, SMP Negeri 10 Metro, SMK Negeri 2 Metro, dan SD Negeri 3 Metro Selatan serta 10 sekolah binaan. Karnaval ini dimulai dari Lapangan Hati Kudus Metro Pusat dan berakhir di Taman Merdeka Kota Metro yang disambut langsung oleh Bapak Walikota Metro, Hi. Lukman Hakim, SH.MM. 

Acara dilanjutkan dengan keliling Stand Pameran Sekolah Sobat Bumi yang digelar di depan kediaman rumah dinas Walikota Metro. Saat mampir ke salah satu stand yakni SSB SMP Negeri 10 Metro, Bapak Walikota Metro menyaksikan langsung aneka jenis pisang langka yang dikembangkan disekolah serta aksi siswa dalam mencuci batik dengan sabun Lerak ( Sapindus rarak ) yang saat ini nyaris terlupakan oleh siswa maupun masyarakat kota pada umumnya.
@ Adelia Ananda Rizky/SMPN 10 Metro


Kamis, 18 September 2014

Pemanfaatan Limbah Kertas Oleh Siswa



Hmmmm…..kali siswa Kelas IV SD Negeri 4 Metro Timur memanfaatkan limbah kertas untuk diolah menjadi frame photo. Sesuai dengan implementasi kurikulum 2013, anak-anak harus mampu meningkatkan kreatifitas mereka salah satunya dengan membuat frame photo tersebut. Terlebih sekolah kami sebagai Sekolah Sobat Bumi Metro, maka harus lebih memberikan contoh pada sekolah lainnya juga mereka pada adik-adik kelassnya.

Masing-masing membawa photo dan bahan-bahan yang diperlukan. Asyik mereka membuat frame dengan kreasi mereka. Dan bahagianya mereka setelah selesai membuatnya, karena ternyata ada beberapa diantara mereka yang baru pertama kali membuat proyek siswa tanpa bantuan orang tuanya. Semoga mentalitas dan kemandirian anak-anak semakin menguat dibenak mereka hingga jadi generasi yang tangguh, Amiin…. (Ms.Ida/SSBMetro)